Memiliki bisnis sendiri bisa jadi merupakan impian banyak orang, dan banyak orang yang mungkin sudah berusaha untuk menjalankannya. Namun apa jadinya jika seseorang ingin menjalankan suatu usaha namun tak punya latar belakang pendidikan maupun pengalaman di bidang tersebut? Bisakah bisnis tersebut kemudian berjalan dengan lancar? Atau justru berhenti dan mengalami kebangkrutan?
Pertanyaan ini juga mungkin berlaku bagi mereka yang ingin menjalankan bisnis di bidang kuliner, seperti misalnya ingin memiliki dan menjalankan usaha rumah makan, kedai kopi, toko sembako, hingga usaha lainnya, namun belum memiliki pengalaman sebelumnya. Bisa jadi, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin bahkan telah membuat beberapa dari mereka yang rindu berbisnis kuliner jadi mengurungkan niatnya untuk melanjutkan impiannya.
Lalu apakah menjalankan bisnis kuliner bagi pemula apalagi yang belum berpengalaman merupakan hal yang bisa berhasil? Jawabannya adalah iya. Bisnis apapun itu, baik bisnis kuliner maupun bisnis lainnya pasti tetap memiliki kesempatan untuk mencapai keberhasilan.
Misalnya saja salah satu pebisnis terkenal seperti Colonel Harland David Sanders atau yang lebih dikenal sebagai Colonel Sanders. Sebelum akhirnya beliau sukses dikenal dengan ayam goreng renyah ciptaannya yang mendunia dan bahkan jauh sebelum beliau memulai usaha kecil sebagai penjual makanan di sebuah pom bensin, Colonel Sanders menghabiskan selama kurang lebih 40 tahun hidupnya untuk bekerja di bidang yang jauh dari dunia kuliner, seperti menjadi tukang parkir hingga bergabung sebagai tentara perang.
Tak hanya Colonel Sanders, pastinya masih ada lebih banyak lagi kisah sukses para pebisnis kuliner yang memulai usahanya dari nol dan tanpa pengalaman. Kisah-kisah tersebut membuktikan adanya kesempatan untuk tetap berhasil dalam menjalankan bisnis kuliner.
Mengapa Bisnis Kuliner?

Menjalankan bisnis kuliner (foto: umkmjogja.com)
Setelah membaca sekilas tentang kisah Colonel Sanders, sebagian dari kalian mungkin bertanya-tanya kenapa harus memilih bisnis kuliner. Tentu saja pertanyaan tersebut wajar untuk ditanyakan mengingat menjalankan bisnis itu tetap tidak boleh asal-asalan jika tak mau rugi.
Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, inilah beberapa alasan mengapa bisnis kuliner bisa menjadi pilihan dalam menjalankan bisnis:
1. Bisnis kuliner menyasar kebutuhan utama setiap orang
Bisnis kuliner pastilah berhubungan dengan makanan, minuman, maupun bahan pokok yang digunakan untuk proses produksinya. Hal tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa bisnis kuliner menawarkan kebutuhan makanan dan minuman yang merupakan kebutuhan utama setiap orang. Itulah sebabnya kesempatan untuk mendapat keuntungan serta untuk tetap terus menjaga kelangsungan bisnis.
2. Target bisnis kuliner meluas dan fleksibel
Setiap bisnis pasti juga punya target pengunjung atau pembeli. Nah, bisnis kuliner termasuk bisnis yang targetnya meluas dan fleksibel. Misalnya saja seperti rumah makan yang target pembelinya meluas, yaitu tidak terbatas usia maupun jenis kelamin.
Target bisnis ini juga fleksibel, alias bisa disesuaikan dengan produk apa yang ditawarkan. Misalnya saja seperti toko sembako, mungkin targetnya pada umumnya adalah ibu atau bapak rumah tangga dan pemilik warung atau restoran yang butuh bahan-bahan pokok, kemudian usaha warteg yang targetnya kelas menengah ke bawah, restoran mewah dengan target kelas menengah ke atas, rumah makan kecil dekat kampus yang menargetkan anak kos dan mahasiswa, hingga bar yang menargetkan orang-orang dewasa di atas umur 18 tahun.
3. Bisnis kuliner bisa sesuai passion

giphy
Poin yang ini tentunya berlaku bagi mereka yang memang minat dan ketertarikannya ada pada dunia kuliner. Misalnya saja, seseorang memilih bisnis kuliner rumah makan tradisional karena ia sangat menyukai masakan tradisional tersebut dan ingin melestarikannya, atau bisa juga seseorang yang memang hobi memasak dan memiliki banyak waktu, hingga seseorang yang ingin mendedikasikan dirinya dalam dunia kuliner setelah melihat adanya peluang keberhasilan dalam menjalankan bisnis yang berhubungan dengan dunia kuliner.
4. Modal bisnis kuliner cenderung lebih kecil
Menjalankan bisnis kuliner juga memberikan kesempatan bagi mereka yang modalnya mungkin tak begitu besar. Hal ini mengingat adanya beberapa bisnis kuliner yang bisa dimulai dengan modal mulai dari Rp 500.000an seperti misalnya toko sembako kecil-kecilan atau sederhana, warung makan mie, jus, dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya tak seberapa dibanding bisnis di luar bisnis kuliner yang bisa jadi membutuhkan modal jauh lebih banyak.
5. Bisnis kuliner lebih mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun
Beberapa bisnis kuliner bahkan bisa dikatakan lebih mudah untuk dijalankan dibanding menjalankan bisnis lainnya. Selain itu, bisnis kuliner juga bisa dilakukan oleh siapapun tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang. Misalnya saja warung mie instan. Bahan-bahannya mudah didapat, modal tidak terlau besar, tempat yang dibutuhkan pun tidak terlalu besar.
Siapapun itu, selama orang tersebut memiliki modal yang cukup, niat yang kuat dan bisa mengatur warung mie instannya dengan baik maka ia bisa membuka dan menjalankan warung mie instan tersebut dengan baik.
6. Bisnis kuliner dapat segera dimulai tanpa mengurus izin yang rumit
Beberapa bisnis kuliner bahkan tak membutuhkan pengurusan izin yang begitu rumit, lho! Misalnya saja membuka toko sembako dengan memanfaatkan bagian depan rumah, atau membuka bisnis katering di rumah. Tentunya hal ini memudahkan siapapun yang ingin memulai bisnis kuliner tersebut tanpa harus berkutat dengan izin yang rumit dan memakan banyak waktu sehingga usaha kuliner bisa dimulai dengan segera. Namun perlu dicatat, hal ini tentunya tidak berlaku bagi bisnis kuliner seperti membuka dan menjalankan bar, maupun menyewa gedung untuk restoran mewah, ya!
7. Bisnis kuliner menggunakan peralatan dan bahan baku yang dapat dengan mudah ditemukan dimanapun

Menjalankan bisnis kuliner (foto: http://www.mnn.com)
Berbeda dengan bisnis lain seperti pengembangan alat-alat berat untuk membangun jalan yang tentunya membutuhkan peralatan yang khusus dan hanya bisa ditemukan di tempat tertentu, bisnis kuliner membutuhkan peralatan yang nyatanya memang secara umum lebih mudah untuk ditemukan. Misalnya saja membuka bisnis katering yang membutuhkan peralatan memasak seperti kompor, panci, gas tabung, spatula, serta bahan-bahan masakan yang bisa ditemukan dengan mudah di pasaran seperti beras, telur, tepung, gula, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, ikan, sayur-sayuran, bawang, cabai, bumbu-bumbu, dan berbagai kebutuhan bahan pokok lainnya.
8. Siklus transaksi pada bisnis kuliner biasanya lebih cepat
Menjalankan bisnis kuliner juga memiliki salah satu keuntungan seperti siklus transaksi yang lebih cepat dibanding bisnis lain. Hal ini masih tidak terlepas dari fakta bahwa makanan dan minuman adalah kebutuhan utama setiap orang, dan hal itulah yang mempermudah orang untuk tertarik membeli makanan maupun minuman.
Berbeda dengan bisnis lain seperti misalnya bisnis furniture. Produk-produk yang ditawarkan bisa jadi tidak selalu laku setiap hari mengingat tak semua orang butuh membeli perlengkapan furniture setiap harinya. Bisa jadi justru transaksi baru terjadi seminggu sekali.
9. Pembuatan laporan keuangan bisnis kuliner biasanya cukup mudah
Pembuatan laporan keuangan dalam bisnis kuliner juga cukup mudah serta tak begitu rumit, terutama bagi bisnis kuliner sederhana yang baru saja dimulai. Laporan keuangan biasanya mencakup bahan baku hingga penjualan yang berhasil dilakukan tiap harinya. Namun meskipun begitu, tetap saja harus cermat, disiplin, dan teliti dalam mencatat laporan keuangan tersebut, ya!
10. Potensi keuntungan bisnis kuliner yang tinggi
Potensi mendapat keuntungan yang tinggi juga ada dan hal itu menjadi salah satu alasan orang memilih menjalankan bisnis kuliner. Hal ini dikarenakan margin keuntungan untuk bisnis kuliner biasanya bisa mencapai 50% hingga 200%. Menarik, bukan?
11. Bisnis kuliner lebih mudah beradaptasi dengan keadaan dan perubahan
Bisnis kuliner juga biasanya lebih mudah beradaptasi dengan keadaan sekitar bahkan dengan perubahan zaman. Berbeda dengan bisnis lain seperti bisnis fashion yang harus selalu mengikuti tren berpakaian yang selalu berubah setiap tahunnya, bisnis kuliner bahkan bisa bertahan meskipun zaman sudah berkembang.
Contoh mudahnya seperti warung bakso dan mie ayam. Kedua makanan ini bisa kita temukan di berbagai wilayah, baik dari dulu hingga sekarang bahkan meskipun zaman sudah berubah.












